2 weeks ago, Posted by: niktual02

Tim Medis FKH UNAIR Mendatangi Lokasi Ikan Paus di Pantai Modung Bangkalan

Pada Jumat (19/2/2/2), tim medis dari Sekolah Tinggi Kedokteran Hewan Universitas Airlangga (UNAIR) mendatangi lokasi terdampar paus di Pantai Karan Modung, Madura. Tim peserta kompetisi adalah drh. Bilqisthi Ari Putra (drh. Bilqisthi) menjabat sebagai staf patologi FKH UNAIR dan drh. Selamat Ferdiansyah selaku peneliti perlindungan hewan. Tim berangkat dari Surabaya pukul tujuh pagi dan tiba di lokasi sekitar pukul sepuluh pagi.

Kepada UNAIR NEWS, drh. Bilqisthi menjelaskan, sebanyak 52 paus terdampar. Saat pertama kali ditemukan oleh nelayan, empat puluh sembilan paus mati dan tiga di antaranya masih hidup. Namun, dari tiga orang yang masih hidup tersebut, dua orang tewas saat berusaha diselamatkan, sehingga hanya satu orang yang masih hidup dan berhasil dikembalikan ke laut.

Dia berkata: "Paus terdampar adalah paus pilot sirip pendek."

Saat pertama kali tiba di lokasi, tim dibagi menjadi dua tim: sebelum dan sesudah mati. Tim pra-pembantaian berfokus pada paus yang masih hidup. Yakni, penyelamatan dan pemantauan kesehatan paus yang masih hidup.

Tim otopsi fokus pada paus mati. Yaitu untuk mengidentifikasi jenis kelamin, ukuran, dan usia. Setelah identifikasi, pemilihan kemudian dilakukan untuk memilih ikan paus yang paling penting untuk bahan otopsi.

Karena arus dan ketinggian air yang kuat, tidak semua paus dapat diidentifikasi. Dari 49 paus yang mati, tim FKH mengidentifikasi 34. Pada saat yang sama, otopsi dilakukan pada tiga paus.

Drh menjelaskan: “Otopsi dilakukan pada tiga paus, dua di antaranya jantan dan satu betina.” Bilqisthi.

Pemilihan bangkai paus didasarkan pada ukuran dan kondisi. Paus yang dipilih untuk otopsi adalah yang terbesar, dan diasumsikan bahwa paus terbesar adalah kepala koloni dengan panjang lima setengah meter dan berjenis kelamin jantan.

Paus betina yang dipilih adalah yang terbesar, berukuran panjang tiga setengah meter. Paus juga menegaskan bahwa dia tidak sakit dan masih layak untuk diotopsi.

Dia menjelaskan: "Hanya dengan bantuan keamanan dari polisi, Kolamir dan aparat desa setempat, otopsi bisa dilakukan pada jam 5 sore."

Bantuan ini tidak hanya diberikan dalam bentuk pengamanan masyarakat. Juga dapat menyediakan peralatan dan keperluan lain untuk otopsi. Otopsi memakan waktu sekitar empat setengah jam, karena otopsi selesai sekitar pukul sepuluh tiga puluh.

Ini bukan hanya otopsi di tempat kejadian. Tim FKH juga mengambil beberapa sampel dari laboratorium FKH UNAIR untuk pemeriksaan patologi. Pemeriksaan patologis dirancang untuk menentukan penyebab pasti 52 paus terdampar.

“Kecurigaan aslinya masih belum bisa kami pastikan karena ketika melihat paus tanpa gangguan sonar, kami juga tidak mencurigai adanya aktivitas vulkanik di dasar laut. Oleh karena itu, perlu ditelusuri melalui pemeriksaan patologis, Bilqisthi.

Tim juga mempertimbangkan faktor alam, karena puting beliung terjadi di Selat Madura sebelum kejadian. Namun, dugaan tersebut sebagai penyebab paus terdampar masih menjadi pembahasan menunggu hasil laboratorium.

Menurut Dr. Paus pilot sirip pendek Bilqisthi hidup berkelompok. Saat berpindah kelompok akan mengikuti pemimpin koloni. Jika pemimpin koloni meninggal, menurut pangkat kematian, otomatis akan digantikan oleh jantan yang lebih tua di bawah naungan koloni yang telah meninggal. Namun jika pemimpin koloni sakit dan belum mati, organisasi paus tetap akan mengikuti pemimpin koloni.

Selain tim medis, ada enam relawan mahasiswa FKH UNAIR yang juga turun ke lokasi untuk membantu. Ini termasuk Ramadhanty T, Yusitisiane Ruth R, Ary Setya Hernanda, Akmal K. Ishak, Agus Arisma dan Shafira R. Ruyani.


Post Views: 16


Leave a comment

Comments

Copyrights © 2017 All rights reserved