Menyingkap Ancaman Hipertensi: Peran Biopeptida dari Organisme Laut dalam Terapi Baru

Hipertensi, atau tekanan darah tinggi, sering disebut sebagai “pembunuh senyap” karena sering kali tidak menunjukkan gejala yang jelas. Namun, dampaknya dapat fatal, meningkatkan risiko serangan jantung dan kematian tanpa peringatan.

Penderita hipertensi memiliki tekanan darah yang terus meningkat, sering kali melebihi 140/90 mmHg, yang dapat menyebabkan komplikasi serius seperti stroke, gagal ginjal, dan gagal jantung. Untuk mengatasi masalah ini, diperlukan terapi obat yang efektif dalam menurunkan tekanan darah.

Salah satu sistem penting dalam pengaturan tekanan darah adalah sistem Renin Angiotensin Aldosterone (RAAS), yang dapat dijadikan target terapi untuk menangani hipertensi. Angiotensin-II, yang dihasilkan oleh sistem ini, memainkan peran kunci dalam meningkatkan tekanan darah dengan merangsang pelepasan hormon tertentu dan menyebabkan vasokonstriksi.

Inhibitor ACE (Angiotensin-Converting Enzyme) merupakan salah satu jenis obat yang digunakan untuk menghambat kerja angiotensin-II dan mengontrol tekanan darah. Namun, beberapa ACE inhibitor sintetik yang umum digunakan dapat menyebabkan efek samping seperti pusing, batuk, dan ruam kulit.

Biopeptida, yang dihasilkan melalui hidrolisis enzimatik, menjadi semakin penting dalam pengembangan terapi hipertensi karena kemampuannya untuk diserap dengan mudah oleh tubuh dan memberikan efek kesehatan yang positif. Organisme laut, dengan beragam sumber daya fungsional seperti biopeptida, enzim, PUFA, dan nutrisi lainnya, menawarkan potensi besar dalam pengembangan industri farmasi, kosmetik, dan suplemen gizi.

simak lebih lengkap di https://unair.ac.id/pakar-unair-identifikasi-potensi-perikanan-dan-kelautan-sebagai-alternatif-antihipertensi/